Berita Ekonomi Terbaru: AS-China-Jepang Melambat, India Berkembang Pesat

Finance364 Dilihat

 

Aashvicorporation. Perekonomian global saat ini mengalami berbagai dinamika, namun tidak semuanya memberikan kabar baik. Berikut adalah beberapa negara yang sedang mengalami pasang surut ekomomi, ada yang naik dan ada juga yang sedang merosot.

AS Masih Berjuang

Amerika Serikat (AS) melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,1% secara tahunan pada kuartal kedua tahun 2023. Ini adalah revisi dari angka sebelumnya yang sebesar 2%, menandakan sedikit pemulihan. Namun, angka ini tetap lebih rendah dari estimasi pertama sebesar 2,4%. Revisi ke bawah terutama terjadi pada investasi inventaris swasta dan investasi tetap nonperumahan, meskipun ada peningkatan pada belanja pemerintah negara bagian dan lokal.

Para ekonom memperkirakan bahwa AS berpotensi mengalami perlambatan ekonomi atau bahkan resesi, terutama karena kenaikan suku bunga yang signifikan yang diatur oleh Federal Reserve untuk mengatasi inflasi yang tinggi. Kenaikan suku bunga biasanya memiliki dampak negatif pada perekonomian.

Meskipun ada tanda-tanda perlambatan menjelang akhir kuartal ketiga, beberapa indikator kunci perekonomian AS masih menunjukkan kinerja yang cukup baik.

China Masih Lesu

Aktivitas manufaktur di China terus mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut pada bulan Agustus. Indeks manajer pembelian resmi (PMI) yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Nasional China naik sedikit menjadi 49,7 pada Agustus dari 49,3 pada Juli, namun tetap berada di bawah angka 50, yang menandakan kontraksi dalam sektor ini.

Data ini memberikan tekanan tambahan pada pemerintah China untuk meningkatkan dukungan kebijakan demi menghidupkan perekonomian. Target pertumbuhan ekonomi China sebesar 5% dapat sulit tercapai mengingat masalah seperti penurunan sektor properti, lemahnya belanja konsumen, dan penurunan pertumbuhan kredit yang telah memaksa bank-bank besar untuk menurunkan proyeksi pertumbuhan tahun ini. Pemerintah sebelumnya telah mengumumkan berbagai stimulus, termasuk pemotongan pajak dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Di sisi lain, PMI non-manufaktur mengalami penurunan menjadi 51,0 dari 51,5 pada bulan Juli, sementara PMI gabungan, yang mencakup aktivitas manufaktur dan non-manufaktur, naik menjadi 51,3 dari 51,1.

Output Pabrik Jepang Melemah

Output pabrik di Jepang mengalami penurunan yang lebih besar dari perkiraan pada bulan Juli. Hal ini mencerminkan tantangan awal yang dihadapi oleh produsen Jepang pada paruh kedua tahun ini, terutama karena meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China dan situasi perekonomian global yang tidak pasti.

Data yang dirilis oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) menunjukkan bahwa industri tersebut mengalami penurunan sebesar 2,0% pada bulan Juli dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini lebih buruk dari perkiraan pasar yang memproyeksikan penurunan sebesar 1,4%, dan terjadi setelah pertumbuhan sebesar 2,4% yang terjadi pada bulan Juni.

“Output di banyak industri, termasuk mesin untuk industri produksi, menurun karena penurunan pesanan dalam dan luar negeri,” kata seorang pejabat METI seperti yang dikutip oleh Reuters.

Output dari komponen dan perangkat elektronik turun sebesar 5,1%, sementara produksi mesin mengalami penurunan sebesar 4,8%, yang secara signifikan mempengaruhi penurunan keseluruhan output pabrik.

Perlambatan ini datang setelah data perdagangan bulan Juli menunjukkan kontraksi ekspor Jepang untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Kontraksi ini disebabkan oleh permintaan global yang lebih rendah terhadap minyak ringan dan peralatan pembuatan chip.

Dalam sektor mesin produksi, output peralatan manufaktur semikonduktor bahkan turun sebesar 16,4%. Pejabat METI menekankan bahwa meskipun tingkat output saat ini belum buruk, prospeknya dapat menjadi lebih suram jika pertimbangkan kondisi permintaan untuk memori semikonduktor.

India Melaju

Perekonomian India mengalami pertumbuhan pesat dalam kuartal April-Juni, mencapai tingkat pertumbuhan tertinggi dalam satu tahun terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor jasa dan manufaktur.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters, Produk Domestik Bruto (PDB) India tumbuh sebesar 7,7% pada kuartal pertengahan tahun 2023. Angka ini naik dari pertumbuhan sebesar 6,1% pada kuartal sebelumnya dan merupakan pertumbuhan tercepat sejak April-Juni 2022.

Para ekonom menganggap bahwa penurunan harga komoditas telah membantu produsen meningkatkan marjin mereka, sekaligus mengimbangi dampak dari kenaikan suku bunga sebanyak 250 basis poin yang telah diberlakukan sejak Mei 2022. Pertumbuhan yang kuat di sektor jasa, yang memberikan lebih dari separuh dari output ekonomi India, telah membantu negara ini bertahan melawan perlambatan ekonomi global yang telah melanda banyak negara besar, termasuk China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *